Pengamat: Hati-hati dengan Manuver Appi di Pilwalkot Makassar 2020

Diskusi bertema Bedah Peta Pilwalkot Makassar bersama PT. Indeks Politica Indonesia di Café Res_Publica, Pettarani, Makassar,Ahad 5 Juli 2020.

Diskusi bertema Bedah Peta Pilwalkot Makassar bersama PT. Indeks Politica Indonesia di Café Res_Publica, Pettarani, Makassar,Ahad 5 Juli 2020.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Belum adanya formulir B1KWK yang dikeluarkan partai politik di Pilwalkot Makassar, menjadi momok menakutkan bagi para calon walikota. Potensi jegal-menjegal masih terbuka lebar.

“Potensi begal politik itu besar. Ada peluang yang sangat potensial, dukungan partai dibajak atau diambil alih oleh calon lain. Karena partai juga tidak memiliki prosedur yang standar untuk menentukan calon kandidat. Banyak partai yang membuka pendaftaran tapi juga menyiapkan shortcut,” kata pakar politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr Luhur Andi Prianto, Ahad 5 Juli 2020.

Ia menjelaskan, di setiap partai politik ada banyak gerbong. Faksi-faksi inilah yang menjadi jalur atau pintu untuk mendapatkan rekomendasi. Jalan pintas inilah yang memungkinkan begal-membegal rekomendasi partai terjadi.

“Istilahnya ada banyak pintu. Itu semua menjadi jalan bagi kandidat untuk membajak rekomendasi partai. Karena selalu tersedia jalan pintas untuk merubah dukungan politik partai yang sudah ditetapkan. Dan saya kira Pak Appi sudah punya pengalaman membangun koalisi besar,” ujar Luhur.

Serupa disampaikan pakar politik Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), Dr Firdaus Muhammad. Menurutnya, potensi membajak partai di detik-detik terakhir sangat mungkin terjadi.

“Manuver-manuver politik Pak Appi sekarang ditunggu, karena memang peluang Appi bermanuver itu paling besar. Kalau benar, Pak Appi menggunakan pola yang lalu, di detik-detik terakhir (rekomendasi partai.red) itu bisa buyar. Karena kita melihat sebelum-sebelumnya, kemungkinan itu masih ada,” tegas Firdaus.

Menurutnya, saat ini merupakan masa kritis bagi para kandidat dan partai politik dalam menentukan pilihan. Kandidat yang telah mencukupi jumlah kursi untuk mendaftar calon walikota, disarankan untuk lebih fokus mempertahankan rekomendasi partai yang sudah ditangan ketimbang berusaha menggembosi partai kandidat lain.

“Jangan sampai lebih fokus menggembosi rekomendasi partai orang lain, sementara partai pendukung sendiri lepas,” ingat Firdaus.