JSI: Agus AN Tidak Direpresentasikan Sebagai Gubernur Sulsel

Wakil Direktur Eksekutif JSI, Popon Lingga Geni

Wakil Direktur Eksekutif JSI, Popon Lingga Geni.

MAKASSAR, DJOURNALIST.com – Wakil Direktur Eksekutif JSI, Popon Lingga Geni mengatakan, minimnya tingkat elektabilitas Agus Arifin Nu’mang di Pilgub Sulsel yang digelar pada tahun ini karena Agus tidak dianggap sebagai representasi Gubernur

“Dalam data kami tingkat kepuasan masyarakat terhadap Agus selama memimpin daerah ini cukup tinggi sebanyak 66,9 persen. Namun begitu Agus tetap rendah di elektabilitas,”ujar Popon kepada media, Senin 28 Mei 2018.

Penyebabnya, lanjut Popon karena Agus tidak direpresentasikan sebagai seorang gubernur sehingga berimbas pada tingkat keterpilihannya atau elektabilitasnya.

Sesuai data, tingkat keterpilihan atau elektabilitas pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) berada di posisi pertama. Duet nomor urut 4 yang maju lewat usungan koalisi rakyat atau independen, memiliki elektabilitas 29,8%.

Sedangkan di posisi kedua ditempati Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) yang mengantongi dukungan 26,1%. Disusul di posisi ketiga, adalah Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) 20.0%. Sementara Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo (Agus-TBL) hanya 7,1%.

“Responden yang belum memutuskan siapa yang didukung itu 14,0%. Dan tidak menjawab, serta rahasia 3%,” tutur Popon.

Popon yang lembaganya dikenal “merajai” kemenangan Pilkada di sejumlah wilayah di Indonesia selama 8 tahun terakhir, mengakui jika pilgub Sulsel tergolong ketat. Apalagi selisih antara IYL-Cakka dengan pasangan yang berada di posisi kedua dan ketiga, itu di bawah 10%.

Meski demikian, di temuan surveinya tersebut, selisih IYL-Cakka dengan NA-ASS sudah melebihi batas marjin error dalam survei yang melibatkan 1.200 responden. Sebab marjin of error 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%. Sementara selisih antara IYL-Cakka dengan NA-ASS menghampiri 4%.

Ia mengurai, pertarungan Pilgub Sulsel akan berlangsung lebih ketat hingga pencoblosan, sehingga dinamika satu bulan ke depan akan menjadi penentu siapa yang keluar sebagai pemenang. Dan semua itu ikut ditentukan seberapa efektif strategi yang dijalankan masing-masing kandidat.

Sekadar diketahui, JSI yang pernah mendapatkan rekor MURI sebagai lembaga paling presisi di Indonesia untuk hitung cepat, melibatkan 1.200 responden dengan teknik sampling, multistage random sampling.

Wawancara tatap muka responden menggunakan kuisioner. Begitu juga untuk menjaga akurasi dan objektifitas hasil survei, semua populasi pemilih di Sulsel memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai responden.(**)