Pengamat Politik : Paslon Tunggal, Itu Realitas Politik

Pengamat politik, Andi Luhur Priyanto,

Pengamat politik, Andi Luhur Priyanto,

MAKASSAR, DJOURNALIS.com – Fenomena Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang diikuti oleh satu pasangan calon bukanlah hal yang baru terjadi. Hal itulah yang tejadi dalam Pemilihan Walikota Makassar 2018 yang memiliki satu pasangan calon yang akan mengikuti agenda Penajaman Visi Misi yang disenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Makassar pada Selasa 5 Juni 2018 mendatang.

Pengamat politik, Andi Luhur Priyanto, mengatakan hal serupa pernah terjadi di Kabupaten Enrekang. Dimana dirinya sendiri bertindak sebagai panelis dalam acara penajaman visi misi Paslon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Enrekang.

“Sebenarnya hal ini bukan hanya di Makassar. Di Enrekang juga, saya perna menjadi panelis disana. Situasi yang sama, dimana ada pasangan tunggal,” ungkapnya kepada djournalist.com, Jum’at 25 Mei 2018.

Akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar itu menjelaskan bahwa dalam penajaman visi misi paslon tunggal, lebih kepada bagaimana paslon tersebut mewujudksn visi misi yang dibangun dan disalurkan ke dalam suatu program.

“Saya kira ini lebih kepada penajaman visi misi saja, lebih kepada mengeksplorasi janji-janji programnya. Termasuk sebenarnya yang perlu diperhatikan itu adalah bagaiman melihat komitmen antar calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah,” jelasnya.

Selain itu, juga akan dilihat sinergitas antar Kepala Daerah dan Wakilnya. “Hal itukan yang selama ini juga menjadi persoalan. Saya kira kalau konteksnya ini hanya ada satu calon lebih kepada memperdebatkan antara wakil dengan kepala daerahnya, wakil dengan walikotanya,” katanya,

Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota, dalam hal ini akan menjadi penilaian tersendiri bagi masyarakat. Bagaiman menyelesaikan malasah-masalah Kota yang menjadi program mereka. Sudah menjadi realitas politik, bahwa masyarakat hanya bisa memberi penilaian bagi paslon tunggal, dan tidak bisa memilih dan menunggu pemaparan visi misi yang lain, layaknya debat kandidat.

“Inikan bukan kemauan penyelenggara untuk mengambil keputusan. Yah begitukah situasinya, hanya satu yah tentu masyarakat tidak banyak pilihan, begitulah realitas politiknya. Kita harua menerima itu sebagai sebuah realitas politik,” katanya. (**)